Monday, May 3, 2010

E-leadership, Bagaimana Implementasinya?

E-leadership dipandang sebagai salah satu solusi yang efektif dan efisien dalam upaya meningkatkan produktivitas. Bagaimana caranya?
Seorang pemimpin, entah ia pemimpin organisasi sosial, bisnis maupun pemerintahan harus bisa bertindak efektif dan efisien. Namun, kenyataan masih banyak pemimpin yang tidak memiliki jiwa leadership dalam mewujudkan visi dan misinya, karena tidak gampang menjadi pemimpin yang memiliki wawasan.
Para ahli manajemen menyarankan, seorang pemimpin harus memiliki sikap yang menjadi bagian dari kepemimpinannya, seperti mampu mengelola aksi, informasi, dan komunikasi secara efektif. Tetapi belum tentu orang yang memegang tampuk pimpinan atau posisi paling atas dapat dikatakan sebagai pemimpin.
Banyak kasus yang bisa menjadi contoh bahwa dalam pengelolaan organisasinya, terutama organisasi bisnis, para pemimpin lebih banyak memusatkan perhatiannya pada pertumbuhan pendapatan, efisiensi biaya, dan perbaikan produktivitas. Karenanya, jika berbicara mengenai teknologi informasi (TI), maka fokus perhatiannya lebih pada peningkatan produktivitas, yaitu meningkatkan efisiensi output (produksi) dan menurunkan biaya produksi.
Perkembangan teknologi yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir, memang telah mengubah paradigma kepemimpinan. Untuk bisa bertindak efektif dan efisien, seorang pemimpin sering disarankan untuk senantiasa mendasarkan kebijakannya pada teknologi informasi, atau yang sering disebut dengan e-leadership.
Pada prinsipnya, e-leadership adalah segala hal yang menyangkut pengetahuan pimpinan mengenai peran TI dalam pengembangan sistem pelayanan publik yang lebih efektif, efisien, dan transparan. Di tataran pemerintahan, e-leadership biasanya dimulai pimpinan tertinggi negara. Di negara-negara lain pun seperti di Malaysia, Singapura, atau AS, e-leadership datangnya dari orang nomor satu. Jadi di sini konsep pengembangan e-government langsung dari presiden, dan harus dijabarkan oleh semua menterinya.
Di Indonesia, Presiden SBY sudah menunjukkan e-leadership-nya. Misalnya, waktu memeriksa komputerisasi kantor imigrasi di Bandara Soekarno-Hatta, dia cek langsung sistemnya. Lalu pidatonya pada Event e-Indonesia mencakup pengembangan e-government. Jadi cuma tinggal menjabarkannya dalam suatu program riil. Ini yang masih kurang.
Namun, menurut Jiono, country manager PT. Computer Associates Indonesia, e-leadership dalam konteks e-government bukan hanya proses sekali jadi. Ia membutuhkan perencanan, dedikasi, dan political will. Dalam hal ini e-leadership tidak harus dilakukan oleh Presiden. Lewat perencanaan, pembentukan tim, dan kemauan politis, presiden bisa membentuk badan untuk melaksanakan peran sebagai e-leader. Satu hal yang perlu diperhatikan oleh badan tersebut, tujuan e-government adalah untuk efisiensi. Lalu harus ada pula perencanaan yang mengarah ke IT Governance.
Ditambahkan Jiono, di Indonesia sebenarnya e-leadership sudah dilakukan. Misalnya website-website pemerintahan sudah ada sejak 4-5 tahun yang lalu. Sebanyak 48% lembaga pemerintah non departemen sudah memiliki situs, meski baru sampai pada tahap publikasi. Lalu beberapa BUMN, seperti Pertamina, e-procurement. Melalui e-procurement, semuanya jadi on line, terbuka, dan transparan.
Di kalangan perusahaan swasta, berbagai inovasi produktivitas memang bisa mendongkrak output perusahaan pada saat permintaan sedang lesu. Sebaliknya, saat permintaan tinggi, peningkatan produktivitas saja tidak memadai. Perusahaan akan membutuhkan tambahan kapasitas alat produksi, kanal baru, dan pegawai tambahan untuk menghasilkan pertumbuhan. Yang pasti, keunggulan kompetitif dibangun dengan menekan biaya serendah mungkin (cost leadership) dan menjual dengan nilai tambah sebanyak mungkin dibanding pesaing (product differentiation).
Sejauh ini perusahaan global mampu menunjukkan keunggulannya pada cost leadership dengan membangun jalur pasokan yang paling efisien dan menghasilkan produk yang unggul dan kompetitif. Singkatnya, e-leadership memang diakui bisa mendongkrak produktivitas dengan mempercepat aktivitas yang tidak perlu, menghemat waktu perjalanan fisik, dan menekan waktu pelayanan.
Aktivitas produktif tersebut dilakukan dengan penggunaan material sehemat mungkin dan biaya yang lebih rendah. Indra M. Utoyo, General Manager e-Business, Divisi Multimedia PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Dalam ulasannya di e-BizzAsia mengungkapkan, dalam penerapan TI untuk meningkatkan produktivitas dan cost leadership, ada beberapa prinsip yang perlu dipedomani, yaitu :
1. Inovasi teknologi dan bisnis berkembang berjalan seiring
Konsep bisnis yang kokoh harus menjadi kemudi kereta bisnis, sementara teknologi menjadi rodanya untuk mempercepat lajunya kereta bisnis. Dengan demikian TI bukan sekadar alat pendukung, tetapi sudah menjadi senjata strategis untuk kelangsungan bisnis.
2. Fokus penerapan TI pada aspek reduksi interaksi manusia dan administratif
Pengurangan biaya interaksi dan administratif khususnya yang menghabiskan waktu karyawan 40-60% harus menjadi prioritas investasi. Dengan demikian kinerja bisnis akan bisa dijaga bermutu tinggi dan terukur, meminimalkan kesalahan manusia, duplikasi data, keterlambatan, dan biaya.
3. Pengembangan ditujukan pada aplikasi pemicu produktivitas secara spesifik
Banyak perusahaan menghabiskan biaya besar di teknologi tetapi tidak mendapatkan keuntungan yang diharapkan karena pengembangan berdasarkan sasaran yang tidak terukur. Peningkatan produktivitas intinya adalah meningkatkan profit yang dapat dilakukan dari beberapa pendekatan, yaitu memaksimalkan output terhadap inputnya.
4. Aplikasi dikembangkan dengan urutan yang logis sejalan dengan kesiapan budaya dan kapabilitas perusahaan.
Tidak ada implementasi yang melompat. Penerapan cara baru dengan aplikasi TI, 90% persoalan adalah masalah manajemen perubahan budaya. Sedangkan, teknologi hanya 10% dari isu perubahan. Aplikasi TI harus diterapkan dalam fase-fase transformasi dengan urutan logis, dimulai dari prioritas bad news yang memberi dampak terbesar bagi perusahaan. Kemudian, secara bertahap diperluas dan diperkaya manfaatnya dengan tetap menekankan pada simplifikasi, efisiensi, standardisasi, dan penyempurnaan model bisnis.
5. Proses-proses bisnis terus diperkuat dengan memaksimalkan infrastruktur yang telah tergelar
Harus ada upaya yang terus menerus untuk menyempurnakan sistem dan proses bisnis agar mampu memanfaatkan secara maksimal kapabilitas infrastruktur TI yang telah tergelar. Jebakannya adalah pada konsistensi. Kita sering terpukau pada tawaran baru teknologi, tetapi lupa memaksimalkan yang sudah kita miliki.
Dengan berpedoman pada lima prinsip di atas, kita dapat memulai efisiensi biaya sebagai pemicu awal dari produktivitas. Bagi perusahaan skala besar (enterprise), mengelola biaya belanja untuk operasi perusahaan merupakan salah satu fokus efisiensi yang paling konkrit. Secara teoritis penghematan biaya produksi 5% akan meningkatkan keuntungan lebih dari 5%. Belanja perusahaan yang dapat dihemat adalah belanja operasi dan modal. Belanja operasi misalnya biaya perjalanan, barang peralatan kantor, jasa-jasa, TI, material, suku cadang, dan lain sebagainya. Belanja modal antara lain pengadaan alat produksi dan bahan baku produksi.

E-LEADERSHIP

Oleh : Awang Anwaruddin

Leadership atau kepemimpinan tidak terbatas hanya pada suatu kedudukan atau pekerjaan; kepemimpinan mencakup wawasan yang lebih luas. Untuk menjadi seorang pemimpin seseorang perlu memiliki visi dan imajinasi. Burke (2008) mendefinisikan kepemimpinan sebagai “..... the ability to bring people, tools and resources together to solve problems and achieve results”. Namun di era global sekarang ini, seorang pemimpin perlu melangkah lebih jauh, mampu membawa SDM yang dipimpinnya bersama-sama melintas bangsa, geografis, budaya dan batasan-batasan lainnya, dengan memanfaatkan teknologi informasi untuk mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan semacam inilah yang disebut e-Leadership.

Berdasarkan pada deskripsi tersebut di atas, kompetensi e-Leadership mencakup kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai peran dan melaksanakannya dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Menurut Burke (2008), peran-peran yang harus dijalankan oleh e-Leadership adalah sebagai berikut:
1. Visionary: memiliki kemampuan untuk melihat gambaran yang besar dan menterjemahkannya kepada anggota organisasinya;
2. Convener: memiliki kemampuan untuk mengelola perbedaan anggota dan membawa organisasinya ke arah tujuan yang jelas dan pemecahan masalah;
3. Team sponsor: memiliki kemampuan untuk membentuk dan mengarahkan kelompok kerja nyata dan kelompok virtual;
4. Manager: memiliki kemampuan untuk mengupayakan dan mengalokasikan sumber-sumber organisasi dengan penuh tanggung-jawab, dan kemampuan untuk mengelola organisasi nyata dan virtual;
5. Innovator: memiliki kemampuan untuk menemukan cara-cara baru untuk pekerjaan-pekerjaan di luar tugas pokok dan fungsinya;
6. Mentor: memiliki kemampuan untuk membimbing dan mengarahkan calon-calon pemimpin baru di lingkungan organisasinya.
Menurut Rahardjo (2008) karakteristik e-Leadership terutama terlihat pada (1) visi dan misi kepimpinan, dan (2) komitmen terhadap pengembangan teknologi informasi. Kedua faktor ini sangat kuat pengaruhnya terhadap keberhasilan e-Government, terutama di beberapa daerah yang telah terbukti berhasil mengembangkan teknologi informasi, seperti Kota Surabaya, Kabupaten Sragen, dan kabupaten Jembrana.

Permasalahan di dalam suatu organisasi modern yang berbasis teknologi informasi pada hakekatnya, menurut Professor Bruce Avolio (1999) , adalah "..... 90% are created by management, not technology". Oleh karena itu tepatlah apabila dikatakan, bahwa pada era internet semacam ini telah muncul suatu paradigma baru bagi pengembangan ketrampilan dan pembelajaran─yakni learning to learn (belajar untuk mempelajari). Agar dapat mengintegrasikan antara manajemen dan teknologi, learning to learn juga termasuk mempelajari teori-teori dan praktek-praktek manajerial yang sebenarnya tidak lagi sesuai dan bahkan dapat merusak tatanan organisasi. Sayangnya, banyak di antara praktek-praktek manajerial ini, termasuk prinsip-prinsip bisnis yang muncul pada tahun delapan-puluhan atau sebelumnya, masih saja menjadi mata kuliah pada kebanyakan jurusan manajemen. Padahal prinsip-prinsip tersebut berpijak pada masa di mana organisasi-organisasi tengah mempelajari apa sebenarnya yang dibutuhkan konsumen, dan para akademisi pun mengangkatnya menjadi mata kuliah Menciptakan Tuntutan Konsumen, dsb.

Sementara itu, perkembangan pesat dalam teknologi informasi telah merubah prinsip di atas dan memunculkan trend baru dalam bidang pelayanan publik yaitu perubahan dalam fokus kebutuhan pelayanan dari pemberi pelayanan ke masyarakat. Sekarang bukan lagi organisasi pelayanan yang menentukan kebutuhan tetapi masyarakatlah yang menentukan dengan cara menuntut yang mereka inginkan dan bukan yang ditawarkan oleh organisasi pelayanan publik. Perubahan ini mengharuskan manajemen untuk menyadari bahwa organisasi pelayanan publik merupakan bagian dari sistim masyarakat, dan bahwa perkembangan teknologi informasi perlu untuk diintegrasikan dengan baik pada seluruh komponen organisasi. Pada hakekatnya hal ini berarti bahwa perkembangan teknologi informasi telah merubah masyarakat pelanggan secara de facto menjadi pemimpin organisasi karena internet secara dramatis telah memberikan akses secara langsung pada organisasi dan sistim pengambilan keputusannya. Dengan kata lain, masyarakat telah menjadi sistim, sistim makro organisasi, sementara sistim teknologi dan organisasi menjadi sub-sistim mikro.

Seorang pemimpin perlu memahami bahwa kekuatan internet yang mampu melintasi batas negara dan pemerintahan telah menciptakan masyarakt global dalam lingkaran pasar global sesungguhnya yang diciptakan oleh dunia yang saling terkoneksi. Dengan demikian, tantangan seorang pemimpin adalah menjembatani gap antara SDM dan masyarakat dengan kemajuan teknologi dan dampaknya, dan bukan perkembangan teknologi itu sendiri. Perubahan fundamental ini benar-benar berkembang pesat sejak beberapa tahun terakhir ini. Hal ini berdampak pada permasalahan baru dalam lingkup kepemimpinan, antara lain sebagai berikut:

(1) Bagaimana implikasi sistim kepemimpinan yang diterapkan saat ini?

(2) Bagaimana cara mengintegrasikan sistim kepemimpinan dan sistim teknologi yang diterapkan dalam organisasi?

(3) Apakah gaya kepemimpinan medukung atau menghambat teknologi?

(4) Apakah sistim kepemimpinan dan sistim teknologi akan saling mendukung?

Solusi terhadap semua perrmasalahan di atas sangat tergantung pada gaya kepemimpinan kita, terutama kesiapan dalam melakukan transformasi kepemimpinan. E-Leadership membutuhkan kepemimpinan transformasional level tinggi, yang dapat diperoleh melalui berbagai sumber, seperti pengalaman yang telah diperoleh selama ini, melalui proses pembelajaran (sekolah, universitas, Diklat, dsb.), dan tidak kalah pentingnya adalah melalui cara kita dalam memperoleh sesuatu yang baru seperti insting, intuisi, hubungan sosial, dsb.