Memimpin bukanlah sekedar menggunakan berbagai instrumen manajemen dan melaksanakan berbagai program. Pemimpin adalah orang yang mengambil tanggung jawab memimpin sebuah kelompok. Pemimpin yang dapat berperan sekaligus sebagai fasilitator bagi organisasinya meramu perannya sebagai pemimpin visioner dan pengatur, dengan pemimpin yang mendengarkan dan memberdayakan.
Sebagai pemimpin yang fasilitatif, dia akan selalu melibatkan pengikutnya semaksimal mungkin dalam pembentukan visi dan misi, serta membangun sebuah tim yang kohesif. Dari sisi ini, kaidah fasilitasi tidak bisa dipisahkan dari pendekatan kepemimpinan. Sebutan pemimpin tidak hanya melekat pada pejabat. Anda bisa saja menjadi pemimpin, bahkan pemimpin yang fasilitatif, meskipun tidak berada pada posisi sebagai pimpinan di sebuah organisasi atau lembaga, bahkan bila Anda mempunyai atasan sekalipun.
A.Sikap Dasar Pemimpin
Jika kita mengepalai orang lain dan kita ingin mengembangkan pemimpin, maka menurut Maxwell kita bertanggung jawab untuk:
1. Menghargai mereka seperti apa adanya,
2. Percaya bahwa mereka akan melakukan yang terbaik,
3. Memuji keberhasilan mereka, dan
4. Menerima tanggung jawab pribadi Anda kepada mereka sebagai pemimpin mereka.
Pelatih futbol Bear Bryant menyatakan perasaan yang sama ini ketika ia mengatakan: ”Saya hanya petani dari Arkansas, tetapi saya telah belajar bagaimana cara mempersatu-kan tim - bagaimana cara menenangkan orang lain, sampai akhirnya mereka mendapat-kan satu denyut jantung bersama sebagai satu tim”. Selanjutnya ia ungkapkan bahwa selalu hanya ada tiga hal yang ia katakan: “kalau sesuatu berjalan dengan buruk, sayalah yang melakukannya. Kalau ada sesuatu yang setengah baik, kamilah yang melakukannya. Kalau ada sesuatu yang benar-benar bagus, merekalah yang melakukannya. ‘Hanya itu yang membuat orang menang”. Bear Bryant merebut hati orang dan timnya merebut berbagai kemenangan pertandingan. Hingga beberapa tahun yang lalu, Bryant mempunyai jumlah kemenangan paling besar dalam
sejarah futbol perguruan tinggi.
Pemimpin besar - orang yang benar-benar sukses - semua punya satu hal yang sama. Mereka tahu bahwa memperoleh dan mempertahankan orang yang baik adalah tugas pemimpin yang paling penting. Sebuah organisasi tidak dapat meningkatkan produktivitas - tetapi orang bisa! Aset yang benar-benar berharga dalam organisasi apapun juga adalah manusia. Sistem semakin tua, bangunan lama runtuh, mesin manjadi aus, tetapi manusia bisa tumbuh, berkembang dan menjadi lebih efektif kalau mereka punya pemimpin yang memahami nilai potensi mereka.
Kekuatan apapun dalam sebuah organisasi merupakan hasil langsung dari kekuatan pemimpinnya. Pemimpin yang lemah sama dengan organisasi yang lemah. Pemimpin yang kuat sama dengan organisasi yang kuat. Segala-galanya naik dan turun sesuai dengan kepemimpinan. Usahawan Rolland Young berkata, “Saya orang yang berhasil atas usaha sendiri, tetapi saya rasa seandainya saya harus melakukannya lagi, saya akan memasukkan seseorang lainnya!” Biasanya pemimpin gagal mengembangkan pemimpin lainnya entah karena mereka kurang latihan atau karena mereka memilliki sikap yang salah dalam hal memperbolehkan dan mendorong orang lain untuk datang ke sisi mereka. Kerap kali, pemimpin secara salah berkeyakinan bahwa mereka harus bersaing dengan orang-orang yang dekat dengan mereka dan bukannya bekerja bersama dengan mereka. Pemimpin besar mempunyai pendirian yang berbeda.
Dalam buku Profiles in Courage, Presiden John F. Kennedy menulis, “Cara yang paling baik untuk jalan terus adalah jalan terus bersama orang lain”. Jenis interaksi positif ini bisa terjadi hanya kalau pemimpin punya sikap saling tergantung dengan orang lain dan berkomitmen kepada hubungan “menang-menang”. Berkaitan dengan sikap membutuhkan orang lain ini, terdapat perbedaan yang menyolok antara dua pandangan yang dimiliki pemimpin tentang orang lain:
Menang dengan Kemampuan Bersaing:
a. Melihat orang lain sebagai musuh
b. Berkonsentrasi pada diri Anda sendiri
c. Menjadi curiga kepada orang lain
d. Hanya menang kalau Anda baik
e. Kemenangan ditentukan oleh keahlian Anda
f. Kemenangan kecil
g. Sedikit kesenangan
h. Ada yang menang dan yang kalah
Menang dengan Kerjasama :
a. Melihat orang lain sebagai teman
b. Berkonsentrasi pada orang lain
c. Memberikan dukungan kepada orang lain
d. Menang kalau Anda dan orang lain baik
e. Kemenangan ditentukan oleh keahlian banyak orang
f. Kemenangan besar
g. Banyak kesenangan
h. Hanya ada pemenang
Diluar sikap dasar tergantung pada orang lain tersebut, Maxwell juga manambahkan beberapa sikap lain yang perlu dimiliki seorang pemimpin, yakni:
1.Sikap positif: kemampuan untuk diajak bekerja bersama serta melihat orang dan situasi dengan cara positif.
2.Sikap melayani: kesediaan untuk patuh, bermain dalam tim, dan mengikuti pemimpin.
3.Kemungkinan pertumbuha: rasa dahaga akan pertumbuhan dan perkembangan pribadi, kemampuan untuk terus tumbuh sementara pekerjaan makin kompleks.
4.Mengikuti sampai tuntas: tekad untuk menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas dan dengan konsistensi.
5.Loyalitas: kesediaan untuk selalu meletakkan pemimpin dan organisasi di atas keinginan pribadi.
6.Keuletan: kemampuan untuk pulih kembali ketika masalah meningkat.
7.Integritas: sifat bisa dipercaya dan watak yang kuat; perkataan dan perbuatan yang konsisten.
8.Pendirian “gambaran besar”: kemampuan untuk melihat seluruh organisasi dan semua kebutuhannya
9.Disiplin: kesediaan untuk melakukan apa yang diperlukan tanpa. mempedulikan suasana hati pribadi.
10.Sikap berterima kasih: sikap penuh rasa terima kasih yang menjadi sebuah cara hidup.
B.Tugas Pemimpin
Banyak organisasi pada zaman sekarang yang gagal menyadap potensinya sendiri. Mengapa? Karena satu-satunya imbalan yang mereka berikan kepada karyawannya adalah gaji. Hubungan antara majikan dan karyawan tidak pernah berkembang melampaui titik tersebut. Organisasi yang sukses mengambil cara pendekatan yang berbeda. Sebagai imbalan bagi pekerjaan yang diberikan seorang karyawan, dia bukan hanya menerima gaji saja, tetapi juga pemeliharaan dari pihak majikan. Dan pemeliharaan mempunyai kemampuan mengubah kehidupan orang.
Begitu Anda mengidentifikasi calon pemimpin, Anda perlu mulai bekerja membina mereka menjadi pemimpin sebagaimana yang bisa mereka capai. Untuk melakukan ini Anda memerlukan strategi. Maxwell menggunakan singkatan BEST untuk menggambarkan apa yang diharapkan orang dari seorang pemimpin, yakni:
B elieve in them (punya keyakinan dalam diri mereka),
E ncourage them (memberi mereka dorongan),
S hare with them(berbagi dengan mereka), dan
T rust them (mempercayai mereka).
Pendekatan BEST adalah awal unsur berikutnya dalam mengembangkan pemimpin di sekililing Anda: memelihara calon pemimpin. Pemeliharaan menguntungkan setiap orang. Siapa yang akan lebih aman dan termotivasi kalau pemimpinnya punya keyakinan terhadap dirinya, mendorong dirinya, berbagi dengan dirinya, dan mempercayai dirinya? Orang akan lebih produktif kalau dipelihara. Bahkan yang lebih penting, pemeliharaan menciptakan landasan emosional dan profesional yang kuat dalam diri pekerja yang mempunyai potensi pemimpin.
Kemudian, dengan menggunakan latihan dan pengembangan, seorang pemimpin bisa dibina di atas landasan tersebut. Proses pemeliharaan melibatkan lebih banyak daripada sekedar dorongan semangat. Ini juga termasuk peneladanan. Bahkan, tanggung jawab utama pemimpin
dalam proses pemeliharaan adalah memberi teladan: etika kerja yang kuat, tanggung jawab, watak, keterbukaan, konsistensi, komunikasi dan keyakinan dalam diri anak buah. Bahkan ketika dia dalam proses memberikan teladan kepada orang-orang di sekelilingnya, dia juga mengambil teladan. Proses pemberian teladan paling baik kalau pemimpin memilih teladannya sendiri untuk ditiru dan kemudian menjadi teladan bagi anggota timnya. Sebagaimana penulis abad kesembilanbelas Oliver Goldsmith pernah mengatakan, “Orang jarang mengalami peningkatan kalau mereka tidak mempunyai teladan selain diri mereka sendiri untuk ditiru.” Kita para pemimpin harus memberikan diri kita sebagai teladan untuk ditiru.
C.Kualitas Pemimpin
John C. Maxwell mengatakan bahwa seorang pemimpin harus dapat melihat potensi orang-orang yang dipimpinnya untuk bertumbuh, berkembang dan menjadi lebih efektif (Developing the Leaders Around You: How to Help Others Reach Their Full Potential, 2005). Untuk dapat mewujudkan hal itu, seorang pemimpin hendaklah memiliki kualitas tertentu. Menurut Maxwell ada 10 kualitas yang dicari orang pada seorang pemimpin, yaitu: 1) watak, 2) pengaruh, 3) bersikap positif, 4) berpengetahuan tentang manusia, 5) pintar membaca bakat, 6) mempunyai catatan prestasi yang terbukti, 7) mempunyai keyakinan, 8) disiplin pribadi, 9) berkomunikasi
dengan efektif, 10) tidak puas dengan status quo.
1. Watak - Hal pertama yang harus dicari pada pemimpin atau calon pemimpin manapun adalah kekuatan watak. Cacat watak yang serius tidak bisa diabaikan. Membiarkan hal ini akan membuat seorang pemimpin menjadi tidak efektif. Cacat watak tidak boleh di samakan dengan kelemahan. Kita semua mempunyai kelemahan. Kelemahan dapat diatasi melalui latihan atau pengalaman. Cacat watak tidak bisa diubah dalam sekejap mata. Perubahan biasanya terjadi dalam jangka waktu lama dan melibatkan investasi dan pengabdian berdasarkan hubungan yang penting di pihak pemimpin. Orang mana saja yang Anda pekerjakan yang punya cacat watak akan merupakan mata rantai yang lemah dalam organisasi Anda dan sifat cacat watak ini akan mempunyai potensi untuk merusak organisasi.
Beberapa kualitas yang membentuk watak yang baik termasuk: kejujuran, integritas, disiplin pribadi, bisa diajar, bisa diandalkan, kegigihan, kebijaksanaan, dan etika kerja yang kuat, perkataan yang benar sesuai dengan perbuatannya. Reputasinya mantap . sikapnya lugas.
Sangat sulit untuk menafsirkan watak ini, tetapi ada tanda-tanda peringatan untuk di perhatikan, termasuk:
-Kegagalan seseorang mengambil tanggung jawab untuk tindakannya atau dalam keadaan keadaan sulit.
-Janji atau kewajiban yang tidak dipenuhi.
-Kegagalan menetapkan batas waktu.
Kita dapat melihat juga watak seorang pemimpin dari interaksi dan kemampuannya memimpin orang lain dan sebaik apa dia mengurus dirinya sendiri, hubungannya dengan orang lain, atasannya, rekan kerja, atau bawahannya.
2. Pengaruh - Kepemimpinan pada dasarnya adalah pengaruh. Setiap pemimpin yang berpengaruh mempunyai dua ciri khas: a) dia pergi menuju suatu tempat, dan b) dia bisa membujuk orang lain untuk pergi bersamanya. Pengaruh ini perlu diukur untuk menetapkan kualitas kepemimpinan seseorang, dan ukurannya dapat dilihat pada hal-hal berikut ini:
* Setinggi apa tingkat pengaruh pemimpin.
Apakah orang itu punya pengikut karena kedudukannya (kekuasaan, jabatan), atau karena izin (dia telah mengembangkan hubungannya dengan memotivasi), hasil (dia dan pengikutnya secara konsisten membuahkan hasil), pengembangan personil (dia telah mengembangkan orang lain disekelilingnya), atau kepribadiannya (dia mengatasi organisasi dan mengembangkan orang lain pada skala kelas dunia)?
* Siapa yang mempengaruhi pemimpin.
Siapa yang diikutinya? Atau orang yang menjadikan dia teladan? Apakah teladannya mengandung nilai etika yang tinggi? Apakah teladan ini mempunyai prioritas yang benar?
* Siapa yang dipengaruhinya. Apakah pengikutnya orang-orang yang menghasilkan hal-hal yang positif, atau sekelompok “yes-men” yang bermutu rendah?
3. Sikap Positif - Sikap positif adalah salah satu aset paling penting yang bisa dimiliki seseorang dalam hidupnya. Begitu sering, apa yang dikatakan orang sebagai masalah mereka sebenarnya bukan masalah mereka. Masalah mereka adalah sikap yang menyebabkan mereka menangani rintangan kehidupan secara buruk.
Kepemimpinan Fasilitatif
Seseorang yang mempunyai sikap positif ibarat lebah. Lebah seharusnya tidak dapat terbang karena ukuran, bobot, dan bentuk badannya dalam hubungan dengan rentang sayapnya membuat terbang mustahil menurut hukum aerodinamika. Tetapi karena tidak mengetahui teori ilmiah, lebah tetap terbang dan membuat madu setiap hari. Sikap tanpa batas ini memungkinkan seseorang bisa memulai setiap hari dengan sikap pikiran positif.
4. Memiliki pengetahuan yang baik tentang manusia - Seorang pemimpin yang tidak mempunyai keahlian tentang manusia tidak akan punya pengikut. Keahlian tentang manusia yang baik menyangkut kepedulian yang sesungguhnya kepada orang lain, memiliki kemampuan untuk memahami orang lain. Bagi seorang pemimpin, membangun interaksi positif dengan orang lain menjadi lebih utama. Perilaku kita terhadap orang lain akan mencerminkan reaksi perilaku mereka terhadap diri kita. Pemimpin yang sukses mengetahui hal ini.
5. Bakat yang jelas - Setiap orang diciptakan Tuhan punya bakat. Salah satu tugas seorang pemimpin adalah membuat penaksiran tentang bakat tersebut ketika mempertimbangkan seseorang untuk dijadikan karyawan. Yang ia pikirkan adalah kemungkinan seseorang untuk menjadi pemimpin.
6. Catatan prestasi yang terbukti - Penyair Archibald Mac Leish pernah mengatakan, “Hanya ada satu hal yang lebih menyakitkan dari belajar dari pengalaman, yaitu tidak belajar dari pengalaman”. Pemimpin yang mempelajari kebenaran ini mengembangkan catatan prestasi yang sukses dengan berlalunya waktu. Setiap orang yang membuka lahan baru, yang berjuang untuk melakukan sesuatu, membuat kesalahan. Orang yang tidak mempunyai catatan prestasi yang bisa dibuktikan mungkin tidak pernah belajar dari kesalahan mereka, atau tidak
pernah mencoba.
7. Keyakinan - Orang tidak akan mengikuti seorang pemimpin yang tidak mempunyai keyakinan dalam dirinya sendiri. Bahkan, orang biasanya tertarik kepada orang lain yang memperlihatkan keyakinan. Keyakinan adalah ciri khas sikap positif. Pencapai prestasi tertinggi dan pemimpin terbesar tetap penuh keyakinan tidak peduli bagaimana keadaannya. Keyakinan bukan hanya untuk diperlihatkan. Keyakinan memberi kekuatan. Seorang pemimpin besar
mempunyai kemampuan untuk menanamkan pada diri anak buahnya keyakinan dalam diri mereka sendiri.
8. Disiplin pribadi - Pemimpin besar selalu mempunyai disiplin pribadi tanpa kecuali. Sayang sekali masyarakat kita mencari pemenuhan seketika dan bukannya disiplin pribadi. Sebagaimana yang dikatakan oleh Jendral Dwight D. Eisenhower, “Tidak ada kemenangan dengan harga yang ditawar.”
9. Keahlian berkomunikasi yang efektif - Sebuah penilitian yang dilaporkan oleh D.K. Burlow dalam The Process of Communication, menyatakan bahwa ratarata orang Amerika melewatkan 70 persen jam aktifnya setiap hari untuk berkomunikasi secara lisan. Tanpa kemampuan berkomunikasi, seorang pemimpin tidak bisa secara efektif melontarkan wawasannya dan menyerukan anak buahnya agar bertindak berdasarkan wawasan. Presiden Gerald Ford
pernah mengatakan, “Dalam kehidupan tidak ada apapun yang lebih penting daripada kemampuan berkomunikasi secara efektif.” Seorang pemimpin tidak mampu mencapai potensinya tanpa keahlian berkomunikasi yang efektif.
10. Rasa tidak puas dengan status quo - Donna Harrison menyatakan, “Pemimpin besar tidak pernah puas dengan tingkat kinerja sekarang; mereka terus menerus berjuang mengejar tingkat pencapaian yang semakin tinggi. Mereka sendiri pindah melampaui status quo, dan mereka meminta hal yang sama dari orang-orang disekeliling mereka”. Ketidakpuasan dengan status quo tidak berarti bersikap negatif atau menggerutu, melainkan kesediaan untuk menjadi berbeda dan mengambil resiko. Orang yang tidak mau mengambil resiko dengan perubahan
tidak akan bisa tumbuh. Seorang pemimpin yang menyukai status quo berpeluang menjadi pengikut.
Di luar kesepuluh kualitas yang disampaikan Maxwell, masih ada beberapa
kemampuan lainnya yang dituntut dari seorang pemimpin fasilitatif. Glenn Brome
(The Facilitative Leader, 2006) menyebutkan tiga hal, yakni keterbukaan, keberanian,
dan menerima nasihat.
Keterbukaan – Seorang pemimpin hendaklah memberi kesempatan kepada orang-orang yang dipimpinnya untuk berkumpul bersama dan mendiskusikan bagaimana meningkatkan pekerjaan, dan meminta masukan dari orang-orang di semua tingkatan. Meminta masukan bukan berarti Anda harus melaksanakan semua yang diusulkan anak buah Anda, tetapi membuat mereka memahami dari awal bagaimana Anda akan memperlakukan usulan-usulan mereka itu. Apakah: 1) Anda hanya ingin mendengar beberapa gagasan, tetapi akan membuat keputusan sendiri; atau, 2) Anda minta gagasan-gagasan, dan akan mengajak mereka
membahasnya kembali sebelum membuat keputusan; atau, 3) meminta masukan dan keputusan akhir akan dibuat bersama mereka; atau, 4) minta masukan, dan tim Anda akan membuat keputusan final setelah membahasnya terlebih dahulu dengan Anda, atau, 5)Anda yang memberi masukan kepada tim Anda, dan menyerahkan penngambilan keputusan sepenuhnya kepada mereka.
Keberanian – Pemimpin fasilitatif juga harus punya keberanian. Ia tidakbungkuk dibawah tekanan. Ketika proyeknya tidak mencapai sasaran, dan ia dipanggil atasan yang lebih tinggi, ia tidak melemparkan kesalahan kepada anak buahnya, tetapi dengan berani mengatakan, “Saya yang bertanggung jawab, dan berjanji hal ini tidak akan terulang lagi”. Nah, bila Anda berada pada posisi itu, tentulah Anda sudah membahasnya dengan bawahan Anda. Jelas ada yang meleset dalam proses pembimbingannya; entah petunjuk Anda yang kurang jelas, atau pemahaman dia yang berbeda. Ingatlah bahwa membimbing adalah proses dua arah. Tanggung jawab anak buah Anda adalah menyelesaikan pekerjaan, dan tanggung jawab Anda adalah memastikan mereka bekerja “pada jalur” yang benar.
Menerima nasihat - Ini merupakan kemampuan penting yang dimiliki para pemimpin fasilitatif. Mereka memiliki kemampuan mendengarkan pendapat yang beragam, termasuk pendapat orang-orang yang berbeda pendapat dengannya. Ini adalah keistimewaan yang dahsyat, karena Anda akan memperoleh masukan-masukan yang lebih lengkap, dan dengan demikian akan dapat membuat keputusan yang lebih matang. Agar bisa melakukan hal ini, seorang pemimpin fasilitatif hendaklah mampu menangkap esensi dari apa yang disampaikan berbagai pihak. Ia juga harus mampu menjaga hubungan diantara sesama anak buahnya dan menciptakan suasana yang memungkinkan mereka untuk saling berbagi informasi.
D. Tingkat Kepemimpinan
Rhenald Kasali (Re-Code Your Change DNA, 2007) mengatakan bahwa pemimpin bukanlah sekedar pemangku jabatan. Pemimpin adalah orang yang dalam situasi yang sulit mampu menimbulkan gerakan dengan kekuatan pengaruhnya. Kasali menggambarkan lima tingkatan kepemimpinan, yang dilihat dari sudut sebab (apa latar belakang yang membuat seseorang berada di tingkat kepemimpinan tertentu).
1.Pemimpin karena posisi – Pemimpin pada tingkat ini dianggap pemimpin karena ia berada disana karena tugas, karena diberi posisi atau jabatan. Pada dasarnya orang yang memimpin karena tugas bukanlah pemimpin yang sesungguhnya. Ia hanyalah manajer, orang yang bekerja dalam sistem. Bawahannya ikut karena mereka diharuskan ikut. Kalau akan bertindak, ia harus mendapat persetujuan bos lebih dulu. Ia bertindak mengikuti prosedur.
2.Pemimpin karena hubungan baik – Pemimpin pada tingkat ini adalah pemimpin yang disegani, yang bekerja sepenuh hati dan mencintai pekerjaannya. Ia sadar betul bahwa prestasi hanya bisa dicapai dengan memimpin orang, bukan dengan memimpin pekerjaan. Karena itu ia memberikan perhatian kepada orang- rang yang bekerja dengannya, atau bekerja untuknya, dengan kasih sayang. Ia percaya cinta kasih membebaskannya dari belenggu-belenggu yang menyekat hubungan antar manusia. Ia sadar bahwa perubahan bukanlah mengubah prestasi atau mengubah organisasi, tetapi mengolah pola pikir.
3.Pemimpin karena produksi/hasil – Kalau pemimpin pada tingkat 1 berpikir bagaimana bekerja mengikuti prosedur, maka pemimpin pada tingkat 3 ini berpikir sebaliknya: prosedur memang perlu dipatuhi, tetapi bukan hanya prosedur yang memberikan hasil yang lebih besar bagi organisasi. Dalam bekerja ia lebih berorientasi pada hasil (result oriented), bukan pada prosedur (process oriented). Bawahannya menghargainya bukan hanya karena pendekatannya yang penuh kasih sayang, tetapi juga karena prestasi kerjanya. Di bawah kepemimpinannya, organisasi mereka menjadi produktif, dan produktivitas membuahkan kesejahteraan dan kebanggaan.
4.Pemimpin karena pengembangan manusia – Mengubah diri dari pemangku jabatan (tingkat 1) menjadi peduli (level 2) dan berprestasi (level 3) adalah sebuah prestasi. Transformasi kepemimpinan yang seperti ini dapat mengubah kinerja perusahaan dari tergolong buruk (sering rugi) menjadi baik (tidak rugi, tidak sakit). Namun di era persaingan sekarang ini, menjadi baik saja belumlah cukup. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang hebat, pemimpin yang tidak hanya peduli pada staf dan karyawannya, tetapi membimbing mereka dari hanya sebagai bawahan menjadi pemimpin baru.
5.Pemimpin karena kharisma - Banyak orang mengatakan bahwa pemimpin besar itu sudah dari sananya berbakat pemimpin. Mereka punya DNA memimpin dan DNA mau berubah. Pendapat ini ada benarnya. Namun bakat saja belumlah Tingkat 1 - Posisi/jabatan: bawahan bekerja karena diharuskan, diawasi Tingkat 5 - Karisma, karakter: dihormati, guru, spiritual Tingkat 4 - Pengembangan manusia/reproduksi: menumbuhkan pribadi-pribadi menjadi pemimpin Tingkat 3 - Produksi/hasil: bersama menghasilkan sesuatu Tingkat 2 - Hubungan baik: memimpin dengan hati, bermakna cukup. Ibarat pualam, ia perlu ditempa, diukir, dan dibentuk. Bila pualam dibentuk dan diukir oleh seniman sehingga menjadi patung yang indah, maka bakat ditempa dan diukir oleh alam di sekitar kita. Alam dapat berwujud keluarga, teman, tempat kerja, interaksi dengan orang lain, bisa juga berupa pengalaman, suka duka, atau kejadian-kejadian di sekitar kita, di tempat lain, bahkan di dunia.
Alam adalah kehidupan dan merupakan sang guru yang menempa belenggubelenggu dalam diri seseorang, menjadikannya pribadi yang layak dipanggil guru, suhu, atau pemimpin besar. Orang mengikutinya bukan karena kedudukan atau jabatannya, melainkan karena kharismanya. Dia telah menjelma menjadi simbol. Seorang pemimpin visioner yang heroik mungkin belum sepenuhnya memenuhi harapan. Para pemimpin visioner menentukan visi organisasinya. Sikap dan tindakannya yang inspiratif dan santun menarik para pengikutnya untuk mewujudkan
visi itu. Tak diragukan lagi, kepemimpinan seperti itu memang hebat, pemberi semangat. Namun kekuatan kepemimpinan yang heroik itu sekaligus juga menjadi kelemahannya. Sumber kebijaksanaan, arahan, dan inspirasi adalah sang pemimpin. Pengikutnya hanyalah sekedar bertindak mengikuti visi sang pemimpin (Manz dan Sims, 1993). Kalau begitu, pemimpin yang bagaimana yang dibutuhkan di era transformasi ini?
E.Pemimpin Fasilitatif
Kepemimpinan fasilitatif bukanlah menyuruh orang melakukan sesuatu, tetapi membuat mereka mampu melepaskan energi mereka (Jenkins & Jenkins, 2006).
Pemimpin fasilitatif memungkinkan semua gagasan yang saling terkait diutarakan, dan menciptakan lingkungan yang kondusif, yang memungkinkan terjadinya dialog konstruktif yang mengarah pada gebrakan-gebrakan inovatif. Ia paham bahwa gagasangagasan baru berkembang dalam tahapan-tahapan. Gagasan tidak muncul begitu saja dan matang seketika. Menurut Jenkins & Jenkins, di tahap paling awal perkembangannya, gagasan-gagasan baru biasanya rapuh dan perlu didorong. Di tahap selanjutnya ia perlu tantangan-tantangan agar kuat dan bertahan untuk jangka panjang. Lalu ketika sudah lebih matang, ia butuh tantangan sekaligus uji coba di alam nyata, di lapangan.
Schwarz (2002) mengatakan, dalam membangun kelompok dan organisasi yang efektif, pemimpin fasilitatif menerapkan nilai-nilai dasar, asumsi, dan prinsipprinsip dasar pendekatan fasilitasi. Pemimpin fasilitatif membantu kelompok dan individu dalam organisasinya menjadi lebih efektif dengan cara membangun kapasitas mereka dalam menilai dan meningkatkan cara mereka bekerja. Dengan demikian, seperti halnya seorang fasilitator yang fungsi utamanya adalah membelajarkan orang,
pemimpin yang fasilitatif juga membantu orang lain belajar bagaimana cara belajar.
Dengan pengertian itu, maka organisasi yang dipimpinnyapun menjadi organisasi yang senantiasa belajar, the learning organization. Dari sudut pandang lain, Jon C. Jenkins dan Maureen R. Jenkins mengatakan dalam buku mereka The 9 Disciplines of a Facilitator (2006), bahwa pemimpin yang fasilitatif adalah pemimpin yang dalam berinteraksi dengan orang lain lebih banyak melakukan fasilitasi ketimbang mengarahkan, atau menjadi fasilitator yang sekaligus berposisi sebagai pemimpin.
Pada dasarnya, pemimpin yang fasilitatif membantu orang lain belajar bagaimana cara belajar. Anda bisa saja menjadi pemimpin yang fasilitatif meskipun tidak berada pada posisi sebagai pimpinan di sebuah organisasi atau lembaga, bahkan bila Anda mempunyai atasan sekalipun. Pengaruh pemimpin atau manajer tradisional (pemimpin/manajer gaya lama) berasal dari kekuasaan formal, sementara pengaruh Anda sebagai pemimpin fasilitatif berasal dari pola pikir dan keterampilan Anda yang membuat Anda bekerja dengan orang-orang dengan pendekatan yang baru, yakni mendahulukan kepentingan mereka, dan membuat mereka belajar.
Dalam konteks ini, Anda menerapkan prinsip-prinsip dasar dan nilai-nilai dasar efektifitas kelompok, dan membelajarkan orang lain, sehingga dengan demikian, Anda bisa saja menjadi pemimpin fasilitatif meskipun tidak punya kedudukan ataupun jabatan di lembaga Anda.
Dengan sendirinya, nilai-nilai dasar, asumsi, dan kaidah-kaidah yang Anda anut mencerminkan tidak hanya cara Anda memfasilitasi dan memimpin, tetapi juga memperlihatkan pilihan mendasar tentang kehidupan yang diinginkan dan diciptakan oleh orang-orang untuk dirinya dan untuk orang lain, dalam organisasi atau lembaga tempat mereka bekerja, organisasi atau lembaga yang Anda pimpin.
Pada tingkat dasar, beberapa organisasi berupaya menjadi organisasi pembelajaran (learning organization) yang mampu mengidentifikasi, menantang, dan mengubah asumsi-asumsi yang meremehkan efektivitas. Dalam menjalankan hal itu, mereka berharap dapat mengubah kemampuan mereka mengevaluasi dan merancang ulang menjadi kelebihan yang dapat mereka unggulkan. Selama mereka mampu menerapkan nilai-nilai dasar yang dipaparkan di Bab 2, mereka akan berhasil. Tetapi bila organisasi-organisasi ini mengelola perubahan itu
dengan pendekatan kontrol sepihak seperti telah disinggung di awal Bab 2, maka mereka akan mengalami nasib yang sama dengan yang dialami organisasiorganisasi lain dalam tahap perkembangan organisasi, yakni jalan ditempat.
F.Pemimpin Fasilitatif dan Fasilitator
Setiap organisasi membutuhkan pemimpin yang bekerja menjunjung nilai-nilai dasar yang baru saja diuraikan, dan mewujudkan konsep pemberdayaan, komitmen, kerjasama, pembelajaran, dan kemitraan. Pada Bab 2 telah dibahas karakteristik fasilitator, manajer, dan pemimpin, sementara dalam bab ini telah dibahas pula beberapa aspek tentang pemimpin dan pemimpin fasilitatif, serta bahwa nilai-nilai yang dianut seorang fasilitator juga melekat pada pemimpin fasilitatif. Kalau begitu, apakah seorang pemimpin fasilitatif adalah juga fasilitator, atau sebaliknya, fasilitator adalah pemimpin fasilitatif? Menjadi pemimpin fasilitatif tidak sama dengan menjadi fasilitator. Tugas dan fungsinya jauh lebih rumit dari tugas dan fungsi fasilitator, dilihat dari beberapa aspek seperti diuraikan di bawah ini.
Pemimpin Fasilitatif Fasilitator
Keanggotaan kelompok Pemimpin kelompok atau
anggota
Pihak ketiga
Substansi/isi pembicaraan Tidak netral, mungkin ahli Dari sisi substansi netral
Proses Terampil dari sisi proses,
menggunakan keterampilan
untuk membantu kelompok
meningkatkan efektivitas
mereka.
Ahli di bidang proses, menggunakan
keterampilan untuk
membantu kelompok meningkatkan
efektivitas mereka.
Peran membuat keputusan Ambil bagian dalam diskusi
substansi, terlibat dalam
pembuatan keputusan
Tidak ambil bagian dalam
pembahasan substansi
maupun pembuatan
keputusan
Pertama, netralitas.
Bila Anda seorang fasilitator, Anda harus bersikap netral dari segi substansi dan bertindak sebagai orang ketiga yang tidak berpihak. Fokus Anda adalah membantu kelompok menyempurnakan proses. Tetapi sebagai pemimpin fasilitatif, Anda terlibat dalam pembahasan substansi, sekaligus membantu kelompok meningkatkan proses kelompok. Adakalanya
Anda terlibat secara mendalam dalam pembicaraan dan begitu bergairah terhadap hasilnya.
Kedua, peran membuat keputusan.
Fasilitator tidak terlibat dalam pembuatan keputusan, tetapi membantu agar kelompok mempu membuat keputusan sendiri. Tetapi sebagai pemimpin fasilitatif, Anda terlibat dalam pembuatan
keputusan secara substantif. Bisa saja Anda diharapkan menjadi pembuat keputusan satu-satunya, mungkin juga sebagai bagian dari kelompok yang membuat keputusan, atau bahkan mendelegasikan pembuatan keputusan kepada orang lain.
Ketiga, Anda bisa menjadi fasilitator yang efektif tanpa harus menjadi anggota kelompok.
Sama halnya dengan pemimpin fasilitatif, Anda bisa menjadi pemimpin tanpa harus menjadi pejabat resmi. Dalam posisi ini, Anda tidak terlalu perlu ahli dari segi proses, tetapi harus punya keterampilan proses yang memadai untuk mencontohkan nilai-nilai dan prinsip dasar partisipasi, dan membantu orang lain mempelajarinya bila mereka mau.
G.Tugas Pemimpin Fasilitatif
Pemimpin fasilitatif menggunakan seperangkat keterampilan yang unik untuk bekerja bersama orang lain. Keterampilan-keterampilan itu digunakan untuk melaksanakan tugasnya. Apa saja tugas seorang pemimpin fasilitatif? Alexander Hancock menggambarkan tugas pemimpin fasilitatif sebagai berikut:
Pengembangan tim – Pemimpin fasilitatif membuat timnya mandiri dan lebih produktif sambil melalui tahap-tahap perkembangan kelompok yang meliputi Forming, Storming, Norming, dan Performing.
Partisipasi Kelompok - Pemimpin fasilitatif memastikan bahwa partisipasi penuh berjalan, sambil menampung perbedaan-perbedaan pendapat maupun keragu-raguan. Juga memastikan bahwa tidak ada yang mendominasi, dan bahwa anggota kelompok saling mendengarkan dan terlibat bersama dalam melaksanakan tugas mereka.
Dialog yang konstruktif – Pemimpin fasilitatif membantu kelompoknya memahami pentingnya dialog dan mencari tahu di tahap-tahap penjajagan awal pekerjaan mereka, berusaha mengetahui sudut pandang masing-masing. Juga membantu mereka agar paham kapan dan bagaimana melakukan debat dan advokasi di tahap pengambilan keputusan dalam pekerjaan mereka, dan tahu bagaimana menggunakan dialog yang konstruktif untuk meningkatkan kerja tim.
Konflik kreatif - Pemimpin fasilitatif membantu kelompok mengenali sikap dan tingkah laku yang konstruktif dan merusak, dan mendorong kelompok mematuhi kesepakatan bersama dan mengembalikan keadaan kembali ke rel semula.
Perencanaan sistem – Pemimpin fasilitatif menggunakan beragam perangkat dan cara untuk membantu tim-tim inti merumuskan kebutuhan, menentukan tujuan, dan mengkompromikan tujuan dan harapan yang sering tidak nyambung. Pemimpin fasilitatif membantu kelompok menangani masalah-masalah tertentu yang mungkin muncul dalam proses perencanaan.
Proses-proses pemecahan masalah - Pemimpin fasilitatif membimbing kelompok melalui proses pemecahan masalah yang terstruktur dan menggunakan berbagai alat untuk menganalisis data seperti diagram pohon, histogram, tulang ikan dan sebagainya. Fasilitator membantu kelompok mengemukakan dan menantang asumsiasumsi yang menghambat mereka melihat pemecahan masalah yang kreatif.
Memfasilitasi akuntabilitas kelompok – Salah satu penyebab mengapa kerja kelompok tidak bisa mencapai tujuan adalah kegagalan pemimpinnya dalam memastikan akuntabilitas, tindak lanjut dan kelanjutan. Pemimpin fasilitatif mendorong kelompoknya bertanggung jawab terhadap misi dan kesepakatan mereka.
Tindak lanjut dan kelanjutan – Pemimpin fasilitatif, dalam kemitraan dengan kelompoknya, memastikan bahwa pelaporan status dan perkembangan pekerjaan secara teratur menjadi acara kunci dalam setiap rapat, bahwa tujuan-tujuan antara tercapai, dan bahwa pendokumentasian terlaksana dan disimpan. Kelompok juga membuat dan mengelola komunikasi dengan pihak-pihak terkait selama periode kerja tim/kelompok mereka.
H.Keterampilan Pemimpin Fasilitatif
Jenkins & Jenkins (2006) mengelompokkan keterampilan pemimpin fasilitatif kedalam tiga bidang: memfasilitasi lingkungan, memfasilitasi diagnosis, dan memfasilitasi pemecahan masalah. Keterampilan yang terkait dengan lingkungan menyangkut pertanyaan, ”Lingkungan sosial/psikologis yang bagaimana yang dibutuhkan agar pekerjaan ini dapat terselesaikan?” Keterampilan diagnostik digunakan untuk menjawab pertanyaan, ”Apa yang sedang terjadi ini?” Dan keterampilan memecahkan persoalan secara kolektif menyangkut jawaban atas
pertanyaan, ”Apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki keadaan?” Fasilitasi Lingkungan
Fasilitasi menciptakan ruang dan waktu bagi tumbuhnya mutual trust (rasa saling percaya). Alasan terhadap hal ini bukan hanya karena tumbuhnya kepercayaan merupakan hal yang indah, tetapi, kepercayaan memberikan tingkat kenyamanan sosial yang diperlukan anggota kelompok untuk saling berinteraksi. Kreatif dalam menangani resiko dan suasana yang pas membantu orang-orang menemukan kebijaksanaan dalam mengambil resiko.
Di tingkat organisasi, pemimpin fasilitatif mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang meyakinkan bawahannya bahwa mereka bisa mengharapkan keadilan dan dukungan korps ketika mereka mencurahkan seluruh tenaga dan upaya terbaik mereka bagi perjalanan organisasi. Ini berarti menyediakan dana dan waktu yang cukup bagi orang-orang dalam organisasi untuk saling mengenal satu sama lain. Mereka perlu merasa nyaman bertukar pendapat di luar lingkungan kerjanya seharihari. Fasilitasi Diagnosis Pada tingkatan kelompok, pemimpin, fasilitator atau manajer hanya bertanya, “Apa yang menjadi tantangan, peluang atau masalah yang dihadapi kelompok kita? Apa yang harus kita lakukan?” Tentu saja cara menjawab berbagai pertanyaan ini adalah bergantung pada model, metode dan pengalaman tiap anggota kelompok.
Untuk memahami situasi kelompok, biasanya pemimpin fasilitatif mulai dengan satu model organisasi dan bagaimana model tersebut bekerja. Model ini biasanya beroperasi atas asumsi bawah sadar. Seperti apa model itu menjadi tidak penting ketika manajer atau pemimpinnya menyadari model mana yang ia gunakan, karena dengan begitu ia bisa memutuskan, akan menggunakannya untuk seterusnya, atau akan melakukan perubahan.
Gareth Morgan (Images of Organizations, 1986) menggambarkan modelmodel organisasi secara metafora, dan mengemukakan delapan bentuk: sebuah mesin, sebuah makhluk hidup, sebuah otak, sebuah budaya, sebuah sistem politik, sebuah kenyataan psikologis, sebuah ketidakmapanan sistem dan transformasi, dan sebuah instrumen dominasi. Analisisnya ini berguna untuk menjelaskan asumsi seseorang sebagai pemimpin, dan asumsi-asumsi yang berkembang dalam organisasinya. Sebuah organisasi bahkan dapat menerapkan lebih dari satu model. Morgan (1986) menggambarkan gerai-gerai McDonald’s sebagai mesin, karena
sejumlah proses yang sangat spesifik yang harus dipatuhi karyawannya, termasuk cara menyapa pelanggan (harus dengan senyum) dan cara mengembalikan uang kembalian (harus disebutkan jumlahnya). Namun di kantor pusat McDonald’s suasana jauh berbeda. Tak ada kesan mesin sama sekali. Kantornya bernuansa kreatif dan inovatif, suasananya seperti di kantor perusahaan periklanan.
Fasilitasi Resolusi
Resolusi merupakan kombinasi antara keadaan sebuah situasi, solusi yang disepakati oleh kelompok, dan komitmen untuk menjamin kedua hal itu sampai ke titik keberhasilan. Memungkinkan resolusi bagi suatu kelompok adalah bentuk yang paling umum dari fasilitasi – termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan yang sedang berlangsung, pelaksanaannya, dan diskusi dengan seluruh anggota kelompok. Fleksibilitas adalah tanda interaksi yang efektif. Tentu saja fleksibilitas tersebut merupakan hasil dari telah dipikirkannya secara menyeluruh tujuan dan dinamika manusia dari organisasi, proyek, atau pertemuan tersebut.
Di tingkat organisasi, keterampilan berinteraksi berarti bahwa pemimpin fasilitatif siap berhadapan dengan pernak-pernik di seputar arah baru. Ini berarti memikirkan secara menyeluruh serta mengelola tidak hanya gambar besarnya, tetapi juga siap melakukan hal-hal yang perlu agar gambaran besar itu terkomunikasikan dan dipahami oleh semua lapisan dalam organisasi.
I.Pemimpin yang Efektif
Pemimpin masa kini menyadari bahwa mereka menjadi lebih efektif ketika mereka melakukan hal-hal berikut ini:
Menyadari bahwa setiap anggota dalam kelompok memiliki kebijakan luhur dan sesuatu yang penting yang bisa mereka sumbangkan.
Mengajak dan menjaga partisipati aktif semua anggota kelompok dalam dialog mendalam dan pembuatan keputusan.
Berasumsi bahwa kerjasama dan kerja tim membuahkan hasil yang lebih baik.
Menggali kemampuan-kemampuan rasional, intuitif dan kreatif setiap anggota kelompok.
Konsisten dan rajin ikut serta dalam dialog mendalam dengan kelompok mengevaluasi visi, persoalan-persoalan, misi, dan hasil.
Menggunakan metode-metode yang berbasis kesepakatan dalam membuat keputusan-keputusan yang dimiliki serta didukung semua anggota kelompok.
Memfasilitasi proses-proses perencanaan yang membangun kreativitas, keterampilan, keputusan-keputusan, dan kemampuan orang-orang yang nantinya akan melaksanakan perencanaan tersebut.
Mendesak agar semua perencanaan kegiatan dilakukan oleh mereka yang bertanggung jawab melaksanakan rekomendasi-rekomendasi dan kegiatankegiatan.
Mempercayakan pada kumpulan pengalaman dan kebijakan kelompok.
Mengenali dan merayakan capaian-capaian setiap orang dalam kelompok, baik capaian besar maupun kecil.
Menciptakan lingkungan dimana orang betul-betul menghargai kebijakan dan kontribusi setiap anggota dalam kelompk.
Berhenti menyuruh atau mengatur orang untuk mencapai hasil yang sudah ditentukan lebih dulu, dan membantu kelompok menyelesaikan apa yang mereka inginkan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keterampilan yang perlu dimiliki seorang pemimpin fasilitatif pada dasarnya sama dengan keterampilan seorang fasilitator, tetapi lingkupnya lebih luas, seperti dapat dilihat pada gambar di halaman berikut.
J.Nilai-nilai Dasar Pemimpin Fasilitatif
Sebagaimana halnya dengan fasilitator, dalam menjalankan perannya seorang pemimpin fasilitatif juga mempunyai nilai-nilai dasar. Ia merancang tindakannya berdasarkan nilai-nilai dasar dan asumsi sama-sama belajar. Apa saja nilai-nilai dasar yang perlu dianut seorang pemimpin yang fasilitatif? Informasi yang sah – Informasi yang sah merupakan fondasi bagi keputusan yang efektif. Agar informasi dikatakan sah, setidak-tidaknya orang hendaklah merasa bebas untuk setuju atau tidak setuju satu sama lain, tanpa harus dibebani kewajiban
apapun, dan tak peduli ada perbedaan kekuasaan atau kekuatan. Sebaiknya orangorang percaya bahwa Anda sejujurnya tertarik untuk memahami pendapat mereka, sebagaimana inginnya Anda mereka memahami pendapat Anda.
Pilihan yang bebas dan berdasar – Informasi yang sah hanya akan penting bila orang bisa menggunakannya untuk membuat pilihan yang bebas dan berdasar. Dengan pilihan yang bebas dan berdasar, Anda mengubah pembagian kekuasaan dari yang tadinya lebih banyak berada di tangan pemimpin formal, menjadi terbagi antara pemimpin formal yang fasilitatif dengan anggota kelompok yang lain. Kekuasaan yang terbagi pada gilirannya akan memungkinkan terjadinya kontrol bersama. Tanpa kekuasaan yang terbagi dan kontrol bersama, akan sulit terjadi pemberdayaan yang berkelanjutan, tim yang mandiri, kemitraan, dan pembelajaran yang sesungguhnya dalam suatu organisasi.
Komitmen internal - Komitmen internal terjadi ketika orang-orang membuat keputusan yang bebas dan berdasar yang betul-betul menjawab kebutuhannya. Dengan adanya komitmen internal, orang mengambil tanggung jawab atas tindakantindakan dan inisiatifnya untuk melakukan apa yang perlu mereka lakukan agar pilihan mereka bisa dijalankan. Anda tidak perlu memantau dari dekat untukmemastikan bahwa mereka melakukan apa yang mereka katakan akan mereka lakukan. Dengan adanya komitmen internal, orang menyelesaikan pekerjaan karena mereka ingin melakukannya, bukan karena disuruh atau diperintah.
Perasaan - Tanpa perasaan, nilai-nilai dasar yang lainnya menjadi kosong, hambar. Perasaan disini maksudnya adalah, menyesuaikan jarak antara Anda dengan orang lain dan dengan diri Anda sendiri, dan untuk sementara menahan diri untuk tidak menghakimi. Ini berarti memiliki keprihatinan mendasar terhadap persoalan orang lain, yang akan membuat Anda prihatin terhadap penderitaan mereka. Penderitaan disini maksudnya adalah rasa kecewa ketika kebutuhan mereka tidak terpenuhi. Sayangnya sebagian pemimpin tak dapat membedakan antara perasaan dengan melindungi secara sepihak, atau mencari jalan aman saja. Pada hal dengan berbuat begitu, mereka sesungguhnya telah mengurangi akuntabilitas.
Kepemimpinan Fasilitatif
Wednesday, March 31, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment